Selasa, 24 Februari 2015

Dear My Brother

Kak, kalau selama hidup kita tidak ada masalah bedebah ini mungkin kita bisa dekat ya..
Berapa belas tahun kita hidup serumah. Aku ingat, waktu kecil kita sering bercanda sampai aku menangis. Semakin bertambah umur, bercanda hanya ala kadarnya. Sisanya, aku tidak mengenalmu dengan baik..
Kak, keadaan membuatku membencimu. Aku menyalahkanmu, menyalahkan keadaan. Tapi suara paraumu menyanyikan lagu "Ayah" di sebelah kamar sambil memetik gitar membuatku terenyuh, tersadar..
Hidupmu hanya ada di dua tempat. Yang pertama, di dunia yang sangat luar. Yang kedua, di dalam sebuah kotak. Di luar sana kamu telah "berpetualang". Menjumpai banyak hal bedebah-bedebah lainnya. Di rumah kamu hanya hidup dalam sebuah kotak. Menutup diri. Menyimpan segala lukamu sendiri. 
Miss you, kak. Lain kali kutulis hal yang leeebiiih banyak tentang dirimu.

Kamis, 19 Februari 2015

Jawaban Atas Sebuah Puisi

Aku berbaring di atas karpet biru. Menatap langit-langit kamar. Putih bersih, terkotak menjadi 12 bagian. Di sana segala doa, mimpi, cerita, dan harapan tembus menuju cakrawala.
Kupilih salah satu kotak, memori tentang malam itu. "Jika suaraku hilang tertiup angin, masihkah aku bisa membuatmu mengerti?" kalimat pertama sebuah puisi pengantar tidur yang kukirimkan untukmu. Kamu bertanya kenapa?
Entahlah. Aku percaya arti jatuh, aku percaya arti bangkit. Mungkin aku hanya sedang lelah. Mungkin aku sedang membutuhkanmu. Tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Bukan karna takut. Hanya tidak mau membebanimu. Dan hanya ingin diam. Sungguh aku tak sebodoh itu. Hanya ingin diam. Jadi aku diam. Saat kamu bertanya kenapa pun, aku diam. Kamu pun diam.
Berganti hari, kamu tidak bertanya. Tapi , kamu datang. Dengan senyum yang kunantikan. Sempat berpikir keras apa yang harus aku katakan. Tapi sebuah pemikiran tiba-tiba menyusup. Aku sadar, saat itu, puisiku terjawab.