Sabtu, 31 Oktober 2015

Tidak Bisa Direncanakan

Ada kalanya, banyak yang ingin kukatakan, tapi aku memilih menahannya.
Ada kalanya, aku memilih diam untuk menjelaskan mengapa.
Ada kalanya, semua itu karena aku malas menjadikannya sia-sia.
Ada kalanya, profesionalitas lah temboknya.

Maka jika salah, akan tetap salah. Tapi di antaranya ada cerita, yang tidak mudah kubagi. Pada akhirnya yang diinginkan adalah menjadi benar. Tapi di antaranya tetap ada cerita, yang tidak mudah kubagi.

Datanglah sebagai teman, maka akan dengan senang kuceritakan. Tentang sebuah cerita. Bahwa ada kalanya dalam hidup ada sesuatu yang tidak bisa kita rencanakan, seperti memiliki rasa, kepada siapa.



Sabtu, 10 Oktober 2015

Mereka?

Aku suka tertawa. Tapi lelah jika terlalu banyak. Aku juga suka mendengar. Tapi lelah jika terlalu banyak. Karena apapun jadi bisa mudah masuk ke telinga, turun ke hati. Termasuk yang tidak enak didengar.

Aku tidak bisa mengatur orang lain mau bicara apa. Aku bisa menolerir, mengiyakan, mewajarkan, bahwa mereka manusia biasa. Tapi mereka tidak tahu betapa kata-kata bisa dengan rumit masuk ke otakku. Ada yang terpental. Ada yang mengganjal.

Jadi, biarlah. Sekali lagi mungkin mereka hanya mengerti lalu bicara. Hanya ingin terlibat, bukan peduli. Bukan memahami, yang lebih dari sekedar mengerti. 

Tapi pagi tadi aku menjumpai lagi salah satu dari mereka. Mereka yang membuatku bersyukur. Bukan, bukan bersyukur yang seperti itu, seperti menjadi merasa aman atau merasa tinggi. Lalu mereka rendah. Tapi bersyukur karena terkadang ada orang-orang yang dihadirkan dalam hidup kita untuk membuat kita "ingat". Menyadari lagi bahwa semua manusia bertahan karena memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Lalu bisa lebih baik menjalani hidup.

Mereka yang membicarakanmu di belakang, ya disanalah mereka..dibelakangmu.
Mereka yang mencelamu, ya disanalah mereka..merasa di depanmu.
Mereka yang peduli padamu, ya disanalah mereka..disampingmu.

Kamu?

Dengan segala berjuta rasa yang kumiliki kupikir aku bisa menulis banyak untukmu. Kupikir aku bisa menulis tentang cinta dengan mudah. Tapi ternyata sulit sekali mencari kata yang lain untuk merangkai kalimat demi kalimat, selain kata...kamu.

Selalu diam sejenak saat menulis kamu.
Selalu berharap dalam kata kamu ada aku.

Kamu, bukan cuma orang yang setiap hari bisa ku panggil 'sayang', tapi kamu adalah alasan ku tuk bangun dan berjuang disetiap pagi.

Minggu, 04 Oktober 2015

Koin

Aku pernah menulis cerita tentang koin. Sebuah cerita fiksi bagaimana sebuah hal sederhana seperti koin bisa membawaku ke dalam sesuatu yang berharga bernama cinta.

Dan lucunya, itu terjadi. Meski jalan ceritanya berbeda. Tapi aku pernah menulis cerita tentang koin. Sungguh. Seperti mimpi saja. Mungkin aku sedang menulis jalan cerita hidupku sendiri. Mungkin memang aku sedang menujumu.

4 kata dalam sebuah pertanyaan.
1 kata untuk sebuah jawaban.
Jadi jagalah apa yang telah kamu minta dariku :)