Satu setengah tahun berlalu. Mencoba menengok kembali masa-masa awal kuliah. Katanya, setelah lulus SMA adalah kehidupan yang sebenarnya. Ternyata, kesulitan terbesar yang kuhadapi adalah menjadi diriku sendiri. Semakin hari aku semakin menjumpai banyak orang. Dan mereka, berbeda-beda. Membuatku bertanya, siapakah aku?
Satu setengah tahun berlalu. Semakin banyak tempat dimana aku menjumpai senja dan mentari pagi. Senja selalu membawaku pulang. Bersama keindahan misteriusnya aku memikirkan hangatnya rumah. Mentari pagi selalu membawaku pergi lagi. Bersiap untuk petualangan baru, meninggalkan rumah.
Tapi, aku lebih menyukai mentari pagi. Entah kenapa.
Jika karena aku lebih menyukai siang, mungkin bisa jadi. Pernahkah kamu merasakan terlalu banyak berpikir membuatmu gila? Itulah yang kurasakan saat malam. Berbeda dengan siang hari, kita terus bergerak, bekerja, berpindah, melakukan sesuatu.
Jika karena aku tidak menyukai malam, mungkin tidak juga. Malam memiliki momen magis tersendiri. Seperti momen berkumpul bersama keluarga yang sebenarnya adalah momen sederhana. Hei, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada "sebuah keluarga" kan.
Ada suatu kalimat bijak, "Jangan kau tunjukkan sinar matahari pada orang buta, tapi ajak dia merasakan kehangatannya," Ya, dari situ aku belajar merasakan kehangatan mentari pagi. Tapi terkadang aku juga melihat sinarnya menelisik rumah-rumah, pohon-pohon, daun-daun. Mensyukuri apa yang kulihat, apa yang kupunya.
Mentari pagi memberiku sebuah energi, menciptakan semangat berpetualang pergi, untuk kembali.