Senin, 26 Januari 2015

Si Bapak Penjual Koran

Well, monday in holiday..
Senin ituu biasanya aku berangkat pagi-pagi ke Yogyakarta. Ceritanya sih menimba ilmu. Di bangjo yang ke 10 dari rumah atau berapa ya lupa, aku selalu membeli koran. Walaupun terkadang hitungan lampu bangjo tak memberiku kesempatan.
Kenapa aku selalu beli di situ? Suka aja sama si bapak penjual korannya. Bukan suka yang itu, tapi karena bapaknya baik. Kok bisa tau baik? Pandangan matanya sejuk sih (nah kan). Beliau orang yang ramah dan sepertinya sudah hafal denganku.

Psychology and Me

Saat mengalami masalah, ada kalanya seseorang merasa dirinya paling menderita di dunia ini. Hal tersebut wajar. Akan tetapi, hal selanjutnya adalah yang harus diperhatikan. Ada yang semakin terpuruk. Tapi aku mencoba untuk tidak begitu.
Aku menemukan buku diary waktu aku menginjak Sekolah Dasar. Di luar segala kisah-kisah memorable yang biasanya terjadi saat masa kecil, aku menemukan bahwa aku mengalami sedikit depresi. Yah, masalah keluarga adalah masalah sensitif. Karena kita tidak bisa memilih untuk terlahir di keluarga yang mana.
Saat itu aku merasa paling menderita. Lalu aku berfikir, kenapa aku bisa merasa "paling"? Memang bagaimana dengan yang lain?

Jumat, 23 Januari 2015

Mentari Pagi

Satu setengah tahun berlalu. Mencoba menengok kembali masa-masa awal kuliah. Katanya, setelah lulus  SMA adalah kehidupan yang sebenarnya. Ternyata, kesulitan terbesar yang kuhadapi adalah menjadi diriku sendiri. Semakin hari aku semakin menjumpai banyak orang. Dan mereka, berbeda-beda. Membuatku bertanya, siapakah aku?
Satu setengah tahun berlalu. Semakin banyak tempat dimana aku menjumpai senja dan mentari pagi. Senja selalu membawaku pulang. Bersama keindahan misteriusnya aku memikirkan hangatnya rumah. Mentari pagi selalu membawaku pergi lagi. Bersiap untuk petualangan baru, meninggalkan rumah.
Tapi, aku lebih menyukai mentari pagi. Entah kenapa. 
Jika karena aku lebih menyukai siang, mungkin bisa jadi. Pernahkah kamu merasakan terlalu banyak berpikir membuatmu gila? Itulah yang kurasakan saat malam. Berbeda dengan siang hari, kita terus bergerak, bekerja, berpindah, melakukan sesuatu. 
Jika karena aku tidak menyukai malam, mungkin tidak juga. Malam memiliki momen magis tersendiri. Seperti momen berkumpul bersama keluarga yang sebenarnya adalah momen sederhana. Hei, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada "sebuah keluarga" kan.
Ada suatu kalimat bijak, "Jangan kau tunjukkan sinar matahari pada orang buta, tapi ajak dia merasakan kehangatannya," Ya, dari situ aku belajar merasakan kehangatan mentari pagi. Tapi terkadang aku juga melihat sinarnya menelisik rumah-rumah, pohon-pohon, daun-daun. Mensyukuri apa yang kulihat, apa yang kupunya. 
Mentari pagi memberiku sebuah energi, menciptakan semangat berpetualang pergi, untuk kembali.