"Bulannya indah, ya?"
"Iya"
Bulan malam ini sangat terang. Seterang kenyataan yang kemudian aku dapatkan. Seharusnya aku tau hal seperti ini akan terjadi juga. Bahwa beberapa akan melangkah lebih tinggi. Meninggalkanku yang seorang pecundang.
Aku adalah seorang pecundang. Memiliki impian yang beraneka rupa. Namun ketika impian itu datang, aku ingat langitku tak seluas apa yang kutatap. Ada batasan yang dengan tegas melarangku menerabas.
Kenapa aku tidak bisa menentukan dimana aku ingin berdiri? Bulan pun menjadi samar-samar. Sesamar keyakinanku untuk menentukan arah langkah kakiku.
Sesamar penglihatanku karena air mata.
Tapi genggaman eratmu menyadarkanku. Pasti disini akan ada yang lebih baik. Bersama keikhlasan, datang pagi dan cahaya yang menawan.
Kamis, 23 Juni 2016
Kamis, 02 Juni 2016
Bodoh
Mereka bodoh. Mereka gila. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun mereka berdua hidup dengan saling menyakiti. Sampai kapan? Sampai raga mereka tidak mampu bertahan lagi? Seremeh itukah jiwa yang diberikan oleh-Nya untuk disia-siakan?
Bukan. Mereka bukan sepasang kekasih dalam drama percintaan. Mereka dua orang dengan ikatan darah. Saling menyakiti satu sama lain hingga membuat sekitarnya gila.
Tolonglah. Orang-orang di sekitar kalian bukan malaikat. Aku pun adalah manusia biasa yang bertanya masih kurang lapangkah hatiku?
Ku kira aku masih bermimpi. Tapi rasanya tak asing. Secepat kilat aku terbangun dari tidur lelapku. Aku gemetar, panas. Seharusnya aku melewatkan tidur siang dengan sayup-sayup langkah kaki anak-anak sepulang sekolah. Tapi apa ini?
Mereka yang bertengkar hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tanpa berpikir imbasnya bagi orang lain. Mereka berpikir hanya mereka yang merasakan sakitnya dan bertanya orang lain tahu apa? Hidupmu sudah enak!! Enak?
Masih bisa kalian bilang hidup orang lain tenang? Masih bisa kalian bilang hidup kalian paling menderita? Sedang disisi kalian ada orang yang ikut gila mencemasi hal yang tak berguna.
Kegilaan ini seperti tak berujung. Kupegang hatiku erat..memintanya bertahan sekuat tenaga. Berlapang dadalah.
Bukan. Mereka bukan sepasang kekasih dalam drama percintaan. Mereka dua orang dengan ikatan darah. Saling menyakiti satu sama lain hingga membuat sekitarnya gila.
Tolonglah. Orang-orang di sekitar kalian bukan malaikat. Aku pun adalah manusia biasa yang bertanya masih kurang lapangkah hatiku?
Ku kira aku masih bermimpi. Tapi rasanya tak asing. Secepat kilat aku terbangun dari tidur lelapku. Aku gemetar, panas. Seharusnya aku melewatkan tidur siang dengan sayup-sayup langkah kaki anak-anak sepulang sekolah. Tapi apa ini?
Mereka yang bertengkar hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tanpa berpikir imbasnya bagi orang lain. Mereka berpikir hanya mereka yang merasakan sakitnya dan bertanya orang lain tahu apa? Hidupmu sudah enak!! Enak?
Masih bisa kalian bilang hidup orang lain tenang? Masih bisa kalian bilang hidup kalian paling menderita? Sedang disisi kalian ada orang yang ikut gila mencemasi hal yang tak berguna.
Kegilaan ini seperti tak berujung. Kupegang hatiku erat..memintanya bertahan sekuat tenaga. Berlapang dadalah.
Langganan:
Komentar (Atom)