"Bulannya indah, ya?"
"Iya"
Bulan malam ini sangat terang. Seterang kenyataan yang kemudian aku dapatkan. Seharusnya aku tau hal seperti ini akan terjadi juga. Bahwa beberapa akan melangkah lebih tinggi. Meninggalkanku yang seorang pecundang.
Aku adalah seorang pecundang. Memiliki impian yang beraneka rupa. Namun ketika impian itu datang, aku ingat langitku tak seluas apa yang kutatap. Ada batasan yang dengan tegas melarangku menerabas.
Kenapa aku tidak bisa menentukan dimana aku ingin berdiri? Bulan pun menjadi samar-samar. Sesamar keyakinanku untuk menentukan arah langkah kakiku.
Sesamar penglihatanku karena air mata.
Tapi genggaman eratmu menyadarkanku. Pasti disini akan ada yang lebih baik. Bersama keikhlasan, datang pagi dan cahaya yang menawan.
puk puk
BalasHapus