Dua puluh tahun coba mengingat kembali tentang hari-hari Minggu yang sudah kulewati. Masa kecil bermain dengan bermacam-macam teman, bermacam-macam kisah. Murni bermain atau mencoba berlari dari kesepian?
Hari Minggu Ibu pergi, Bapak belum tentu pulang, Mas dan Mbak belum tentu ada di rumah. Pernah suatu ketika Bapak harus kembali ke rantau di hari Minggu. Aku belum bisa mengendarai sepeda motor waktu itu. Jadi aku hanya bisa mengantarkannya jalan kaki sampai jalan naik di dekat rumah. Beliau menciumku lalu melambaikan tangan. Aku melihatnya sampai menghilang di persimpangan jalan. Aku berbalik, pulang dengan gontai, dengan segala emosi anak kecil. Sampai rumah, aku menangis sejadi-jadinya.
Sakit sekali selalu menerima lambaian tangan selamat tinggal dari mereka. Enak sekali mereka pergi tinggal pergi, pikirku saat itu. Setelah beranjak dewasa, kini aku yang harus sering meninggalkan. Dan sama saja sakitnya. Rasa sakit itu menjalar seiring setapak demi setapak langkah kaki yang menjauhi rumah tercinta.
Aku mengerti sekarang. Semakin beranjak usia kita, semakin kita bisa melihat dunia dari berbagai sisi dan menjadi bijak karenanya.
Tapi segala emosi anak kecil itu masih sama. Jika dunia menciptakan hari Minggu untuk kesempatan keluarga berkumpul, bersantai, dan berlibur, maka aku diciptakan untuk mengharapkan itu semua. Merindukan itu semua. Memahami jarak yang menyimpan hati kita untuk tetap merindu pada mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar