Minggu, 27 Desember 2015

Memeluk Angin

Bukankah menyendiri menyenangkan? Bukankah dunia sudah terlalu sibuk.

Di balik gedung-gedung tempat mahasiswa menimba ilmu itu, ada lukisan senja yang indah. Kali ini bukan warna tergradasi yang lembut. Namun warna yang cukup terang bercampur gumpalan awan gelap yang agak berceceran.
Aku ingin menjadi matahari yang segera ingin terbenam itu. Tapi awan masih menggangguku dengan hitamnya di sana sini. Memaksaku harus terbit esok hari demi membalas dendam sebuah keindahan yang belum terbayar. Bukankah memang demikian. Hidupku masih harus terus berjalan.

Alam, tolong aku.

Sore itu aku memilih berjalan sendiri. Sungguh aku lelah setelah bertemu banyak orang. Aku tersenyum getir kepada langit senja itu. Lihatlah, aku tersenyum pada langit. Mungkin aku memang sudah gila. Seputus asakah itu aku menginginkan kedamaian?
Aku memilih pulang. Tapi sama saja. Tidak ada kedamaian yang bisa kupeluk. Pun tidak ada cukup keberanian untuk berontak.
Aku memilih pergi lagi. Meskipun kutemui diriku sendiri di sudut ruangan ini. Meskipun jika lelah aku hanya bertatapan dengan dunia luar jendela.

Dimanakah kedamaian?
Aku harus pergi kemana lagi?
Alam tolong peluk jiwaku saat lelah. Hingga aku tersenyum lagi demi hanya merasakan sejuknya angin berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar