Senin, 28 Maret 2016

Hujan. Jogja. Kamu.

Jalanan hujan badai. Disalip sembarangan. Diklakson seenaknya. Kena cipratan air sedikit. Kena cipratan air banyak. Mau marah sama siapa?
Mau semarah apapun percuma. Siapa yang mau dengar? Hanya buang-buang tenaga. Pada akhirnya yang dipilih adalah ikhlas saja. Pada akhirnya yang dipilih adalah memahami mereka. Mungkin mereka buru-buru, mungkin mereka ada kebutuhan mendesak, dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Yang jadi pertanyaan adalah, jika kita bisa dengan mudah memahami orang lain, mengapa kadang kita begitu sulit untuk mau memahami orang yang kita sayangi? Pertanyaan ini terbesit pada malam itu, saat dia mengantarku di bawah derasnya hujan.

Untuk setiap tetes hujan yang menyakiti tanganmu, yang mendinginkanmu, tidak ada yang sia-sia bukan? Dibaliknya ada sesuatu yang kugenggam erat, yaitu keinginan untuk memahami. Seperti hujan dan jogja yang memahamiku lalu membawamu untukku.

Hujan, jogja, kamu.

Sabtu, 19 Maret 2016

Support

Ada salah satu hal yang senang kulakukan, yaitu melihat berbagai ajang pencarian bakat di berbagai acara yang di siarkan di beberapa negara. Siapa yang tidak terpukau dengan bakat-bakat hebat? Tapi ada yang lebih menarik, yaitu pendukungnya.
Ketika seseorang sedang berada di atas panggung dan berusaha memukau banyak penonton, apa yang ada di baliknya? Kadang aku melihat tidak ada siapa-siapa. Kadang aku melihat ada orang-orang yang ikut tegang, berusaha menutupi kecemasannya untuk sebuah dukungan terbaik. Kadang ada yang ikut menangis untuk sekedar tidak sanggup mengatakan "Nggak apa-apa, masih ada kesempatan lain". Kadang ada menangis haru dan bangga.
Apa yang ada di depan layar dan di balik layar itu seolah-olah menghipnotisku tentang sebuah support terbaik dan energi kasih yang begitu kuat.
Oke, kadang aku juga ikut tersihir dan menangis.Semoga aku memiliki pendukung-pendukung terbaik dalam hidupku. Amin..

Minggu, 13 Maret 2016

Twenty One

I am officially 21 years old!!

Sudah kepala dua, lebih satu. Hari itu aku banyak diam. Aku tahu setelah ini akan banyak hal berubah dengan bertambahnya usia. Beberapa percakapan mulai serius. Peperangan batin dalam diri sendiri mulai sering dirasakan. Tapi bukankah seharusnya anak muda siap menerima tantangan? Menikmati jatuh bangun?

"Selamat ulang tahun," kata ibuku saat aku pamit sambil mencium pipinya. Sangat bersyukur beliau masih bersamaku hingga di usiaku yang sekarang ini. Meski hanya berdua, aku yakin suatu saat yang lain akan pulang, karena hati mereka ada di rumah ini, iya kan?

Siangnya aku pergi, menemui seseorang yang sudah menantiku. Banyaaak sekali yang dia lakukan untukku. Banyaak sekali yang dia berikan untukku. Banyak sekali yang membuat hariku saat itu semakin istimewa. Tapi sebenarnya, dialah kado terindahnya. Dia diam, dia cemberut, dia tersenyum, dia tertawa, dia ngomel-ngomel, dia merajuk, dia serius, dan lain-lainnya, diam-diam aku memandanginya, merekamnya dengan jelas dalam setiap kenangan. Lalu aku tersenyum dan kembali berpaling.

Aku adalah orang aneh yang sering memiliki pemikiran sendiri dan tiba-tiba tertawa, seperti orang gila. Ha, dan kamu menjadi salah satu bagian dari keanehanku itu, jangan menyesal ya.

Hmm banyak sekali yang aku takutkan tentang hari esok. Tapi banyak juga yang aku harapkan. Meski aku orang yang berhati-hati dan mencoba realistis, tapi aku juga punya mimpi. Melangkah. Aku hanya harus melangkah. Seperti saat aku bertanya "Jogja hujan apa enggak?". Hujan deras katamu. Aku berpikir ulang untuk pergi. Tapi akhirnya aku memutuskan pergi. Meski sepanjang perjalanan aku menyaksikan langit Jogja di sana gelap tapi aku tetap memutuskan pergi. Karena aku tidak tahu apakah saat aku sampai disana masih hujan atau tidak, atau hanya gerimis, atau tinggal awan mendungnya saja, atau malah hujan badai. Aku juga tidak tahu apakah aku akan basah, atau setengah basah, atau terjaga tetap kering.

Yang aku tahu, pasti selalu ada tempat untuk berteduh. Yang nyaman. Yang menghangatkan. Apapun itu.

Aku hanya perlu melangkah.

Rabu, 09 Maret 2016

Kalut

Pagi itu aku melaju menuju kota tempatku belajar lagi. Sepertinya aku kesiangan, karena matahari sudah agak tinggi. Gedung dan bangunan di kotaku tidak banyak yang tinggi. Dan matahari sudah muncul di balik gedung-gedung itu. Baiklah, aku pernah mengatakan aku menyukai matahari pagi, tapi sungguh, pagi itu cahanya benar-benar mengganggu. Ia mengikutiku terus menerus di sebelah kiriku. Melewati kaca. Mengganggu penglihatanku.
Selama perjalanan itu aku terus marah. Entah karena cahaya menyebalkan itu atau suasana hati sedang tidak begitu baik. Aku ingin marah dan melaju kencang. Kenapa saat kita kesal kita ingin melaju kencang? Karena kita ingin mengubah sesuatu dengan berpindah cepat. Aku merasa kalut sekali pagi itu. Tapi cahanya menghambatku melakukannya. Benar-benar mengganggu, atau aku harus berterimakasih?
Ada kalanya dalam hidup aku begitu kalut. Merasa kesal terhadap apapun. Tapi aku harus bisa mengatasinya. Dan dalam perjalanan panjang itu, aku menghela nafas berkali-kali. Aku harus menyelamatkan hatiku dari kekesalan yang tidak penting ini. Sungguh, bukankah pagi begitu sejuk untuk dinikmati? Semoga..