Senin, 28 Maret 2016

Hujan. Jogja. Kamu.

Jalanan hujan badai. Disalip sembarangan. Diklakson seenaknya. Kena cipratan air sedikit. Kena cipratan air banyak. Mau marah sama siapa?
Mau semarah apapun percuma. Siapa yang mau dengar? Hanya buang-buang tenaga. Pada akhirnya yang dipilih adalah ikhlas saja. Pada akhirnya yang dipilih adalah memahami mereka. Mungkin mereka buru-buru, mungkin mereka ada kebutuhan mendesak, dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Yang jadi pertanyaan adalah, jika kita bisa dengan mudah memahami orang lain, mengapa kadang kita begitu sulit untuk mau memahami orang yang kita sayangi? Pertanyaan ini terbesit pada malam itu, saat dia mengantarku di bawah derasnya hujan.

Untuk setiap tetes hujan yang menyakiti tanganmu, yang mendinginkanmu, tidak ada yang sia-sia bukan? Dibaliknya ada sesuatu yang kugenggam erat, yaitu keinginan untuk memahami. Seperti hujan dan jogja yang memahamiku lalu membawamu untukku.

Hujan, jogja, kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar