Bukankah menyendiri menyenangkan? Bukankah dunia sudah terlalu sibuk.
Di balik gedung-gedung tempat mahasiswa menimba ilmu itu, ada lukisan
senja yang indah. Kali ini bukan warna tergradasi yang lembut. Namun warna yang cukup terang bercampur gumpalan awan gelap yang agak berceceran.
Aku ingin menjadi matahari yang segera ingin terbenam itu. Tapi awan masih menggangguku dengan hitamnya di sana sini. Memaksaku harus terbit esok hari demi membalas dendam sebuah keindahan yang belum terbayar. Bukankah memang demikian. Hidupku masih harus terus berjalan.
Alam, tolong aku.
Sore itu aku memilih berjalan sendiri. Sungguh aku lelah setelah bertemu banyak orang. Aku tersenyum getir kepada langit senja itu. Lihatlah, aku tersenyum pada langit. Mungkin aku memang sudah gila. Seputus asakah itu aku menginginkan kedamaian?
Aku memilih pulang. Tapi sama saja. Tidak ada kedamaian yang bisa kupeluk. Pun tidak ada cukup keberanian untuk berontak.
Aku memilih pergi lagi. Meskipun kutemui diriku sendiri di sudut ruangan ini. Meskipun jika lelah aku hanya bertatapan dengan dunia luar jendela.
Dimanakah kedamaian?
Aku harus pergi kemana lagi?
Alam tolong peluk jiwaku saat lelah. Hingga aku tersenyum lagi demi hanya merasakan sejuknya angin berlalu.
Minggu, 27 Desember 2015
Kamis, 17 Desember 2015
Figuran
Pernah mendengar atau melihat lukisan Renoir? Salah satunya tentang sepasang kekasih yang sedang berdansa dengan indahnya. Tapi bukan itu ceritanya. Jika kamu melihat di sudut kiri bawah, ada seorang wanita sedang mengintip. Aku jadi berpikir tentang pemeran utama dan figuran.
Sering sekali perkataan yang terucap maupun yang terlintas dalam benakku menjadi kenyataan. Dan ya, kamu pernah menjadi bagian dari itu, sekitar setahun yang lalu. Hitam adalah warnanya,yang membuatku melihatmu saat itu. Lalu aku berpikir, mungkinkah, jika apa yang kita lihat tidak sama. Benarkah segala sesuatu itu mungkin, dan jawabannya adalah mungkin
Silahkan definisikan aku yang mana. Dalam sebuah sudut pandang kita bisa menjadi pemeran utama atau figuran. Tapi dalam hidup, semua orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing..
Minggu, 13 Desember 2015
Berharap yang Baik
Kemungkinan-kemungkinan buruk memang ada. Tapi cukup kita tahu, tak usah dikatakan. Apalagi dikatakan seolah-olah kamu siap. Aku hanya memandang diriku sebagai anak kecil yang tidur menengadah ke langit. Menggambar raai-rasi bintang. Aku hanya ingin selalu berharap aku bisa menggambar rasi yang indah, meski aku tidak tahu rumitnya ilmu pengetahuan dibaliknya. Cukup kamu tidak mengatakan rasi bintang itu tidak ada. Itu sudah cukup. Semoga kamu bisa ikut di samping anak kecil itu..dan tersenyum.Berharap hal-hal yang baik.
Kamis, 10 Desember 2015
Rabu, 09 Desember 2015
Tulisan Lama
Sore yang dingin di musim hujan. Aku memutuskan untuk mematikan televisi. Ada sebuah buku tulis dan pulpen tergeletak di atas meja. Coret-coret sebentar sepertinya asik, pikirku.
Bukunya sudah agak usang. Waktu kubuka langsung menuju halaman tengah. Ada sebuah tulisan!! Satu kalimat pertama kubaca. Dan..astaga!! Tulisanku sendiri.
"Ve berlari mengikuti arah hatinya, menyusuri ruang-ruang, menjelajahi waktu, mencari dirinya yang hilang yang tersapu ombak perbedaan. Gelombang keraguan perlahan mengikis karang di hatinya." Salah satu cuplikan cerpennya.Ah, sepertinya ini kutulis saat Sekolah Menengah Pertama. Entah apa yang sedang kurasakan saat itu. Entah bagaimana suasana sekitar saat aku menulisnya. Entah di mana. Apakah sama-sama dalam suasana sore musim hujan.
Yang pasti, kutemukan lagi potongan kenangan di rumah ini.Serasa menjelajah mesin waktu.Tapi setidaknya tidak semenakutkan memori masa kecil. Baik ataupun buruk, selalu dirindukan saat dewasa.
Minggu, 06 Desember 2015
Sikat gigi
Waktu tiba-tiba ketemu kamu dan kamu bilang "mau beli sikat gigi", rasanya ingin tertawa..bahkan setelah duniaku baru saja runtuh malam itu. Dan ternyata cuma karanganmu aja. Haha.
Duniaku runtuh malam itu. Air mata tertahan, tapi tidak bisa menangis sembarangan.
Aku pernah mendengar, jika kamu tidak tahu kepada siapa hatimu berpihak, coba pikirkan..siapa orang yang ketika kamu senang atau sedih dialah orang yang kamu ingin dia menjadi orang pertama yang tahu. Dan aku hanya mengatakannya padamu, hingga akhirnya menangis di depanmu.
Terimakasih, untuk datang kepadaku, untuk tahu bahwa aku membutuhkanmu bahkan tanpa aku perlu mengatakannya.
It's like i wanna hug you and ask "everything is gonna be okey, right?"
Minggu, 29 November 2015
Karya
18 November 2014, Allah kan membawamu cinta.
29 November 2015, Allah kan membawamu cinta.
Setiap karya dengan pemahaman yang baik memang selalu mengena. Dan setiap pemahaman yang dibagi dengan bahasa yang baik memang selalu lebih indah.
Pemahaman datang dari pengalaman hidup. Dan "walau sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati".
Walau sekejap. Dalam hitungan waktu yang aku sendiri tidak tahu berapa lama itu sekejap.Tapi ketulusan berlangsung selamanya, dalam bentuk yang mungkin bisa menyakiti, tapi tidak akan merugikan.
Jumat, 27 November 2015
Light
Pertama kalinya mendengar lagu itu lagi semenjak aku menyanyikannya untukmu. Sungguh, aku tidak berani menatap matamu. Dan tidak terasa air mata itu mendesakku.
Di antara lampu yang indah dan berwarna warni itu, bagaimana bisa? hanya kamu yang menarik. Bagaimana bisa? hanya kamu yang ingin kulihat.
Trust me, you are special.
Minggu, 22 November 2015
Berbagi
Waktumu boleh milik orang lain, waktuku juga. Tapi tetap saja aku tidak suka melihatmu beranjak pergi, seperti halnya aku tidak suka beranjak meninggalkanmu. Aku juga punya sisi ini...
Sabtu, 31 Oktober 2015
Tidak Bisa Direncanakan
Ada kalanya, banyak yang ingin kukatakan, tapi aku memilih menahannya.
Ada kalanya, aku memilih diam untuk menjelaskan mengapa.
Ada kalanya, semua itu karena aku malas menjadikannya sia-sia.
Ada kalanya, profesionalitas lah temboknya.
Maka jika salah, akan tetap salah. Tapi di antaranya ada cerita, yang tidak mudah kubagi. Pada akhirnya yang diinginkan adalah menjadi benar. Tapi di antaranya tetap ada cerita, yang tidak mudah kubagi.
Datanglah sebagai teman, maka akan dengan senang kuceritakan. Tentang sebuah cerita. Bahwa ada kalanya dalam hidup ada sesuatu yang tidak bisa kita rencanakan, seperti memiliki rasa, kepada siapa.
Sabtu, 10 Oktober 2015
Mereka?
Aku suka tertawa. Tapi lelah jika terlalu banyak. Aku juga suka mendengar. Tapi lelah jika terlalu banyak. Karena apapun jadi bisa mudah masuk ke telinga, turun ke hati. Termasuk yang tidak enak didengar.
Aku tidak bisa mengatur orang lain mau bicara apa. Aku bisa menolerir, mengiyakan, mewajarkan, bahwa mereka manusia biasa. Tapi mereka tidak tahu betapa kata-kata bisa dengan rumit masuk ke otakku. Ada yang terpental. Ada yang mengganjal.
Jadi, biarlah. Sekali lagi mungkin mereka hanya mengerti lalu bicara. Hanya ingin terlibat, bukan peduli. Bukan memahami, yang lebih dari sekedar mengerti.
Tapi pagi tadi aku menjumpai lagi salah satu dari mereka. Mereka yang membuatku bersyukur. Bukan, bukan bersyukur yang seperti itu, seperti menjadi merasa aman atau merasa tinggi. Lalu mereka rendah. Tapi bersyukur karena terkadang ada orang-orang yang dihadirkan dalam hidup kita untuk membuat kita "ingat". Menyadari lagi bahwa semua manusia bertahan karena memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Lalu bisa lebih baik menjalani hidup.
Mereka yang membicarakanmu di belakang, ya disanalah mereka..dibelakangmu.
Mereka yang mencelamu, ya disanalah mereka..merasa di depanmu.
Mereka yang peduli padamu, ya disanalah mereka..disampingmu.
Kamu?
Dengan segala berjuta rasa yang kumiliki kupikir aku bisa menulis banyak untukmu. Kupikir aku bisa menulis tentang cinta dengan mudah. Tapi ternyata sulit sekali mencari kata yang lain untuk merangkai kalimat demi kalimat, selain kata...kamu.
Selalu diam sejenak saat menulis kamu.
Selalu berharap dalam kata kamu ada aku.
Kamu, bukan cuma orang yang setiap hari bisa ku panggil 'sayang', tapi kamu adalah alasan ku tuk bangun dan berjuang disetiap pagi.
Selalu diam sejenak saat menulis kamu.
Selalu berharap dalam kata kamu ada aku.
Kamu, bukan cuma orang yang setiap hari bisa ku panggil 'sayang', tapi kamu adalah alasan ku tuk bangun dan berjuang disetiap pagi.
Minggu, 04 Oktober 2015
Koin
Aku pernah menulis cerita tentang koin. Sebuah cerita fiksi bagaimana sebuah hal sederhana seperti koin bisa membawaku ke dalam sesuatu yang berharga bernama cinta.
Dan lucunya, itu terjadi. Meski jalan ceritanya berbeda. Tapi aku pernah menulis cerita tentang koin. Sungguh. Seperti mimpi saja. Mungkin aku sedang menulis jalan cerita hidupku sendiri. Mungkin memang aku sedang menujumu.
4 kata dalam sebuah pertanyaan.
1 kata untuk sebuah jawaban.
Jadi jagalah apa yang telah kamu minta dariku :)
Dan lucunya, itu terjadi. Meski jalan ceritanya berbeda. Tapi aku pernah menulis cerita tentang koin. Sungguh. Seperti mimpi saja. Mungkin aku sedang menulis jalan cerita hidupku sendiri. Mungkin memang aku sedang menujumu.
4 kata dalam sebuah pertanyaan.
1 kata untuk sebuah jawaban.
Jadi jagalah apa yang telah kamu minta dariku :)
Rabu, 23 September 2015
Sepotong Hati yang Baru
Mungkin Tuhan tahu aku telah siap. Seperti sebuah jawaban dari menunggu seseorang yang mau melangkahkan dua kakinya dengan mantap di atas perahuku. Seperti sebuah jawaban dari aku siap dengan lembaran baru.
Apa aku benar-benar siap? Entahlah. Kamu adalah mimpi indah, jika itu adalah mimpi. Sesuatu yang saat aku bangun akan ada banyak asumsi. Tinggal aku siap untuk terbangun sekarang atau tidak. Mau percaya atau tidak. Bisa diyakinkan atau tidak.
Terlepas dari semua itu, aku bahagia. Mungkin itu bukan sebuah jawaban yang diharapkan. Tapi sungguh, dua kata itu sangat berarti untukku.
Terimakasih. Untuk membuatku tidak hanya menjadi orang yang berpijak di bumi dan mendongak ke langit. Tapi juga melihat apa yang ada di antaranya.
Semua orang beranjak dari luka masa lalu. Dan luka memang pasti, sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi kita bisa memilih, untuk menggunakannya lagi, atau melangkah dengan sesuatu yg utuh, seperti sepotong hati yang baru.
People fall in love in mysterious ways (Ed Sheeran).
Apa aku benar-benar siap? Entahlah. Kamu adalah mimpi indah, jika itu adalah mimpi. Sesuatu yang saat aku bangun akan ada banyak asumsi. Tinggal aku siap untuk terbangun sekarang atau tidak. Mau percaya atau tidak. Bisa diyakinkan atau tidak.
Terlepas dari semua itu, aku bahagia. Mungkin itu bukan sebuah jawaban yang diharapkan. Tapi sungguh, dua kata itu sangat berarti untukku.
Terimakasih. Untuk membuatku tidak hanya menjadi orang yang berpijak di bumi dan mendongak ke langit. Tapi juga melihat apa yang ada di antaranya.
Semua orang beranjak dari luka masa lalu. Dan luka memang pasti, sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi kita bisa memilih, untuk menggunakannya lagi, atau melangkah dengan sesuatu yg utuh, seperti sepotong hati yang baru.
People fall in love in mysterious ways (Ed Sheeran).
Senin, 10 Agustus 2015
Fix You
Yes, you are special. Sudah banyak sekali yang kita lewati, termasuk lika-liku perasaan yang meninggikan dan menumbangkan. Tapi masih saja bertahan. Mungkin karena aku memahamimu cukup baik, cukup bisa menghadapi jalan pikiranmu yang rumit. Sesuatu yang hanya bisa aku lihat di satu sisi.
If the high worth the pain. Manis sekali setiap momen itu. Tapi segala sesuatunya berjalan semakin buruk. Dan aku tidak bisa menutup mata. Memang semua berjalan apa adanya, walaupun itu seburuk-buruknya.
I will try to fix you. Sungguh aku masih mencoba. Aku kesampingkan kenapa. Aku hanya berpikir, ya..mungkin aku bisa memperbaiki ini, mungkin aku bisa menyadarkanmu. Aku silau dengan harapan agar semuanya lebih baik.
Maybe it's not me. Kenyataan tidak bisa ditolak, hanya bisa ditunda. Kujanjikan ketulusan sepenuhnya, namun seberapa keras aku berusaha sepertinya sia-sia. Mungkin bukan aku yang mampu mengubahmu. Ya, kamu dan halaman-halaman yang telah kulewati kemarin akan menjadi sebuah buku yang selesai.
Segala hal manis sekarang terlihat seperti sebuah obsesi. Segala rasa sekarang terlihat gila. Konyol.
Melihat dari berbagai sudut pandang memang mudah. Namun mencari sudut pandang yang tepat butuh waktu lama. But its just a matter of time. And I'll not regret anything. Aku siap dengan buku baru.
If the high worth the pain. Manis sekali setiap momen itu. Tapi segala sesuatunya berjalan semakin buruk. Dan aku tidak bisa menutup mata. Memang semua berjalan apa adanya, walaupun itu seburuk-buruknya.
I will try to fix you. Sungguh aku masih mencoba. Aku kesampingkan kenapa. Aku hanya berpikir, ya..mungkin aku bisa memperbaiki ini, mungkin aku bisa menyadarkanmu. Aku silau dengan harapan agar semuanya lebih baik.
Maybe it's not me. Kenyataan tidak bisa ditolak, hanya bisa ditunda. Kujanjikan ketulusan sepenuhnya, namun seberapa keras aku berusaha sepertinya sia-sia. Mungkin bukan aku yang mampu mengubahmu. Ya, kamu dan halaman-halaman yang telah kulewati kemarin akan menjadi sebuah buku yang selesai.
Segala hal manis sekarang terlihat seperti sebuah obsesi. Segala rasa sekarang terlihat gila. Konyol.
Melihat dari berbagai sudut pandang memang mudah. Namun mencari sudut pandang yang tepat butuh waktu lama. But its just a matter of time. And I'll not regret anything. Aku siap dengan buku baru.
Kamis, 02 Juli 2015
Perahu
Berdiri di atas dua perahu, membuatmu harus memilih salah satunya atau lama-lama kamu akan jatuh dengan sendirinya. Tapi kamu memilih untuk menjaga keseimbangan untuk keduanya. Aku pun berlayar menjauh. Terus maju tak mau menoleh ke belakang lagi. Biar saja kutemukan suatu titik bernama hampa, asal tak kau permainkan batas kesabaran. Jika kehampaan itu adalah air, maka biarlah aliran air yang merenggutnya, atau aku yang mendayungnya. Hingga nanti kutemukan tempat berlabuh, di mana akan ada sepasang kaki yang dengan mantap berdiri di atas perahuku.
Sabtu, 04 April 2015
Suatu hari di hari Minggu
Dua puluh tahun coba mengingat kembali tentang hari-hari Minggu yang sudah kulewati. Masa kecil bermain dengan bermacam-macam teman, bermacam-macam kisah. Murni bermain atau mencoba berlari dari kesepian?
Hari Minggu Ibu pergi, Bapak belum tentu pulang, Mas dan Mbak belum tentu ada di rumah. Pernah suatu ketika Bapak harus kembali ke rantau di hari Minggu. Aku belum bisa mengendarai sepeda motor waktu itu. Jadi aku hanya bisa mengantarkannya jalan kaki sampai jalan naik di dekat rumah. Beliau menciumku lalu melambaikan tangan. Aku melihatnya sampai menghilang di persimpangan jalan. Aku berbalik, pulang dengan gontai, dengan segala emosi anak kecil. Sampai rumah, aku menangis sejadi-jadinya.
Jumat, 03 April 2015
Aku, Kamu, dan Rindu
Aku sudah kalah sejak awal. Di depanmu, ada aku dan segenap rasaku. Tetapi tak pernah cukup untuk membuatmu beralih darinya. Dan aku masih saja berharap. Bukankah itu berarti sedang mencari celah dalam hatimu?
Pada akhirnya aku sampai di dalam celah itu. Membawa api. Membuat hatimu dan hatiku terbakar. Jika sudah begini, mau dibawa kemana bara-bara ini? Akankah kamu biarkan atau dengan satu kata kamu padamkan.
Jika sudah begini, mau dibawa kemana rindu-rindu ini? Akan kamu kalahkan atau kamu biarkan ku menangkan.
Pada akhirnya aku sampai di dalam celah itu. Membawa api. Membuat hatimu dan hatiku terbakar. Jika sudah begini, mau dibawa kemana bara-bara ini? Akankah kamu biarkan atau dengan satu kata kamu padamkan.
Jika sudah begini, mau dibawa kemana rindu-rindu ini? Akan kamu kalahkan atau kamu biarkan ku menangkan.
Sabtu, 14 Maret 2015
My Twenty
12-3, bisa mencium pipi ibuku di pagi hari, di hari pentingku. Itulah kenapa hari sebelumnya aku sengaja pulang. Bisakah kau kirimkan ayahku juga, Tuhan? Aku selalu dan akan selalu menunggu ia pulang.
Senin, 02 Maret 2015
Nyanyian Malam
Aku menyukai malam. Tapi terjaga sepanjang malam akan membuat keseimbangan tubuhku terganggu. Selain secara fisik, aku menderita gangguan sleeping paralyze. Tidur terlalu larut malam bisa membuatku mengalami sleeping paralyze. Lalu aku akan kembali kepada terapi yang kubuat sendiri, mendengarkan lagu sebelum tidur.
Malam ini aku tidak perlu melakukannya. Hujan mengguyur deras dari siang sampai malam. Lalu berhenti, dan menyisakan malam yang penuh dengan suara alam. Sisa tetesan air dari dedaunan, dari atap, ke tanah, ke genangan air di tanah, ke jalan aspal, ke tumbuh-tumbuhan, ke segala apapun yang berada di atas bumi ini. Suara katak bersahutan di kolam tak terpakai di samping rumah. Malamku sungguh tak sunyi, tapi sangat menenangkan. Well, hopefully i have a nice dream. Night.
Malam ini aku tidak perlu melakukannya. Hujan mengguyur deras dari siang sampai malam. Lalu berhenti, dan menyisakan malam yang penuh dengan suara alam. Sisa tetesan air dari dedaunan, dari atap, ke tanah, ke genangan air di tanah, ke jalan aspal, ke tumbuh-tumbuhan, ke segala apapun yang berada di atas bumi ini. Suara katak bersahutan di kolam tak terpakai di samping rumah. Malamku sungguh tak sunyi, tapi sangat menenangkan. Well, hopefully i have a nice dream. Night.
Selasa, 24 Februari 2015
Dear My Brother
Kak, kalau selama hidup kita tidak ada masalah bedebah ini mungkin kita bisa dekat ya..
Berapa belas tahun kita hidup serumah. Aku ingat, waktu kecil kita sering bercanda sampai aku menangis. Semakin bertambah umur, bercanda hanya ala kadarnya. Sisanya, aku tidak mengenalmu dengan baik..
Kak, keadaan membuatku membencimu. Aku menyalahkanmu, menyalahkan keadaan. Tapi suara paraumu menyanyikan lagu "Ayah" di sebelah kamar sambil memetik gitar membuatku terenyuh, tersadar..
Hidupmu hanya ada di dua tempat. Yang pertama, di dunia yang sangat luar. Yang kedua, di dalam sebuah kotak. Di luar sana kamu telah "berpetualang". Menjumpai banyak hal bedebah-bedebah lainnya. Di rumah kamu hanya hidup dalam sebuah kotak. Menutup diri. Menyimpan segala lukamu sendiri.
Miss you, kak. Lain kali kutulis hal yang leeebiiih banyak tentang dirimu.
Kamis, 19 Februari 2015
Jawaban Atas Sebuah Puisi
Aku berbaring di atas karpet biru. Menatap langit-langit kamar. Putih bersih, terkotak menjadi 12 bagian. Di sana segala doa, mimpi, cerita, dan harapan tembus menuju cakrawala.
Kupilih salah satu kotak, memori tentang malam itu. "Jika suaraku hilang tertiup angin, masihkah aku bisa membuatmu mengerti?" kalimat pertama sebuah puisi pengantar tidur yang kukirimkan untukmu. Kamu bertanya kenapa?
Entahlah. Aku percaya arti jatuh, aku percaya arti bangkit. Mungkin aku hanya sedang lelah. Mungkin aku sedang membutuhkanmu. Tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Bukan karna takut. Hanya tidak mau membebanimu. Dan hanya ingin diam. Sungguh aku tak sebodoh itu. Hanya ingin diam. Jadi aku diam. Saat kamu bertanya kenapa pun, aku diam. Kamu pun diam.
Berganti hari, kamu tidak bertanya. Tapi , kamu datang. Dengan senyum yang kunantikan. Sempat berpikir keras apa yang harus aku katakan. Tapi sebuah pemikiran tiba-tiba menyusup. Aku sadar, saat itu, puisiku terjawab.
Kupilih salah satu kotak, memori tentang malam itu. "Jika suaraku hilang tertiup angin, masihkah aku bisa membuatmu mengerti?" kalimat pertama sebuah puisi pengantar tidur yang kukirimkan untukmu. Kamu bertanya kenapa?
Entahlah. Aku percaya arti jatuh, aku percaya arti bangkit. Mungkin aku hanya sedang lelah. Mungkin aku sedang membutuhkanmu. Tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Bukan karna takut. Hanya tidak mau membebanimu. Dan hanya ingin diam. Sungguh aku tak sebodoh itu. Hanya ingin diam. Jadi aku diam. Saat kamu bertanya kenapa pun, aku diam. Kamu pun diam.
Berganti hari, kamu tidak bertanya. Tapi , kamu datang. Dengan senyum yang kunantikan. Sempat berpikir keras apa yang harus aku katakan. Tapi sebuah pemikiran tiba-tiba menyusup. Aku sadar, saat itu, puisiku terjawab.
Senin, 26 Januari 2015
Si Bapak Penjual Koran
Well, monday in holiday..
Senin ituu biasanya aku berangkat pagi-pagi ke Yogyakarta. Ceritanya sih menimba ilmu. Di bangjo yang ke 10 dari rumah atau berapa ya lupa, aku selalu membeli koran. Walaupun terkadang hitungan lampu bangjo tak memberiku kesempatan.
Kenapa aku selalu beli di situ? Suka aja sama si bapak penjual korannya. Bukan suka yang itu, tapi karena bapaknya baik. Kok bisa tau baik? Pandangan matanya sejuk sih (nah kan). Beliau orang yang ramah dan sepertinya sudah hafal denganku.
Psychology and Me
Saat mengalami masalah, ada kalanya seseorang merasa dirinya paling menderita di dunia ini. Hal tersebut wajar. Akan tetapi, hal selanjutnya adalah yang harus diperhatikan. Ada yang semakin terpuruk. Tapi aku mencoba untuk tidak begitu.
Aku menemukan buku diary waktu aku menginjak Sekolah Dasar. Di luar segala kisah-kisah memorable yang biasanya terjadi saat masa kecil, aku menemukan bahwa aku mengalami sedikit depresi. Yah, masalah keluarga adalah masalah sensitif. Karena kita tidak bisa memilih untuk terlahir di keluarga yang mana.
Saat itu aku merasa paling menderita. Lalu aku berfikir, kenapa aku bisa merasa "paling"? Memang bagaimana dengan yang lain?
Jumat, 23 Januari 2015
Mentari Pagi
Satu setengah tahun berlalu. Mencoba menengok kembali masa-masa awal kuliah. Katanya, setelah lulus SMA adalah kehidupan yang sebenarnya. Ternyata, kesulitan terbesar yang kuhadapi adalah menjadi diriku sendiri. Semakin hari aku semakin menjumpai banyak orang. Dan mereka, berbeda-beda. Membuatku bertanya, siapakah aku?
Satu setengah tahun berlalu. Semakin banyak tempat dimana aku menjumpai senja dan mentari pagi. Senja selalu membawaku pulang. Bersama keindahan misteriusnya aku memikirkan hangatnya rumah. Mentari pagi selalu membawaku pergi lagi. Bersiap untuk petualangan baru, meninggalkan rumah.
Tapi, aku lebih menyukai mentari pagi. Entah kenapa.
Jika karena aku lebih menyukai siang, mungkin bisa jadi. Pernahkah kamu merasakan terlalu banyak berpikir membuatmu gila? Itulah yang kurasakan saat malam. Berbeda dengan siang hari, kita terus bergerak, bekerja, berpindah, melakukan sesuatu.
Jika karena aku tidak menyukai malam, mungkin tidak juga. Malam memiliki momen magis tersendiri. Seperti momen berkumpul bersama keluarga yang sebenarnya adalah momen sederhana. Hei, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada "sebuah keluarga" kan.
Ada suatu kalimat bijak, "Jangan kau tunjukkan sinar matahari pada orang buta, tapi ajak dia merasakan kehangatannya," Ya, dari situ aku belajar merasakan kehangatan mentari pagi. Tapi terkadang aku juga melihat sinarnya menelisik rumah-rumah, pohon-pohon, daun-daun. Mensyukuri apa yang kulihat, apa yang kupunya.
Mentari pagi memberiku sebuah energi, menciptakan semangat berpetualang pergi, untuk kembali.
Langganan:
Komentar (Atom)