Sabtu, 27 Agustus 2016

Gerimis Malam

Mereka tertawa dan aku merasa sendiri..
Mereka tak sadar akan gerimis dan aku berharap hujan deras menghampiri..
Mereka ingin lebih lama dan aku ingin megakhiri..

Kamis, 23 Juni 2016

Bulan

"Bulannya indah, ya?"
"Iya"

Bulan malam ini sangat terang. Seterang kenyataan yang kemudian aku dapatkan. Seharusnya aku tau hal seperti ini akan terjadi juga. Bahwa beberapa akan melangkah lebih tinggi. Meninggalkanku yang seorang pecundang.

Aku adalah seorang pecundang. Memiliki impian yang beraneka rupa. Namun ketika impian itu datang, aku ingat langitku tak seluas apa yang kutatap. Ada batasan yang dengan tegas melarangku menerabas.

Kenapa aku tidak bisa menentukan dimana aku ingin berdiri? Bulan pun menjadi samar-samar. Sesamar keyakinanku untuk menentukan arah langkah kakiku.

Sesamar penglihatanku karena air mata.

Tapi genggaman eratmu menyadarkanku. Pasti disini akan ada yang lebih baik. Bersama keikhlasan, datang pagi dan cahaya yang menawan.

Kamis, 02 Juni 2016

Bodoh

Mereka bodoh. Mereka gila. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun mereka berdua hidup dengan saling menyakiti. Sampai kapan? Sampai raga mereka tidak mampu bertahan lagi? Seremeh itukah jiwa yang diberikan oleh-Nya untuk disia-siakan?

Bukan. Mereka bukan sepasang kekasih dalam drama percintaan. Mereka dua orang dengan ikatan darah. Saling menyakiti satu sama lain hingga membuat sekitarnya gila.

Tolonglah. Orang-orang di sekitar kalian bukan malaikat. Aku pun adalah manusia biasa yang bertanya masih kurang lapangkah hatiku?

Ku kira aku masih bermimpi. Tapi rasanya tak asing. Secepat kilat aku terbangun dari tidur lelapku. Aku gemetar, panas. Seharusnya aku melewatkan tidur siang dengan sayup-sayup langkah kaki anak-anak sepulang sekolah. Tapi apa ini?

Mereka yang bertengkar hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tanpa berpikir imbasnya bagi orang lain. Mereka berpikir hanya mereka yang merasakan sakitnya dan bertanya orang lain tahu apa? Hidupmu sudah enak!! Enak?

Masih bisa kalian bilang hidup orang lain tenang? Masih bisa kalian bilang hidup kalian paling menderita? Sedang disisi kalian ada orang yang ikut gila mencemasi hal yang tak berguna.

Kegilaan ini seperti tak berujung. Kupegang hatiku erat..memintanya bertahan sekuat tenaga. Berlapang dadalah.

Rabu, 11 Mei 2016

Sleep

Saat terbangun malam hari, aku sering memikirkanmu tidur nyenyak disana. Laki-laki ini yang kucintai, Tuhan tolong jaga dia.

Kadang tidak sempat mengantar tidurmu. Sibuk melewati hari, membicarakan apapun bersamamu. Mungkin memang benar, cinta bisa melihat sisi terdalam seorang manusia. Diamku berganti beribu kata. Diamku berganti berpuluh tingkah. 

Tapi ada kalanya kita sama-sama diam. Terpagut ikatan yang erat dalam diam..

Selasa, 03 Mei 2016

Drawing

Aku memilih diam sepanjang perjalanan pulang. Aku terjebak di antara perasaan tidak seharusnya marah tetapi rasanya kesal sekali. Kelihatannya tenang, tetapi apapun yang kupegang berjatuhan.
Lalu aku memilih untuk menggambar, kemudian memberi warna. Yang ku tahu, warna merah yang kutuangkan akan tetap menjadi warna merah. Warna hitam akan menjadi warna hitam. Tak berwarna akan tetap tak berwarna. Mereka pasti. Seperti sikap yang ingin kutentukan. Gambarnya pun menjadi rumit. Seperti pikiranku yang tak kunjung terkontrol.
Ternyata, meluapkan kegundahan lewat warna-warna ini tidak sebaik berkata sesuka hati. Tapi aku malas berbicara. Sedang diam tak kunjung memberi rasa lega.
Can't you ask me why? I'll try to tell. Then i can sleep tonight..

Persimpangan Jalan

Why should i live with you? Sebesar itukah dirimu memberiku pelajaran hidup hingga kita terus seperti ini? Selama hidup, dari dulu kala, aku terus bertanya, menangkis untuk tidak bertanya, dan bertanya lagi. Aku tahu ini salah.
Saat itu aku sedang dalam perjalanan, terhenti di perempatan jalan. Setiap orang kemudian mempunyai pilihan. Apakah dia akan belok kiri, berjalan lurus, belok kanan, berhenti, atau menepi. Tapi saat itu  aku melihat seseorang berjalan kebingungan di tengah jalan. Membingungkan siapapun yang ingin lewat juga. Mereka kesal namun juga tidak bisa seenaknya menyakiti.
Bagiku kamu adalah orang itu. Aku hanya ingin kita yang sekarang. Tidak peduli masa lalu yang sudah tertinggalkan. Aku hanya ingin kamu yang terhenti di lampu perempatan jalan, kemudian memilih kemana akan pergi. Bukan orang yang ikut menyeretku dalam arus kebingungan.

Jumat, 29 April 2016

Lose Control

Di antara rasa sayang, hadir pula rasa marah. Apapun alasannya, dari yang besar sampai kecil tak beralasan. Kehilangan kendali, luap emosi. Maafkan manusia yang satu ini..
Tapi jangan takut untuk terlibat secara emosional. Karena aku marah untuk kemudian menyesal..
Aku marah untuk kemudian menyesal. Maafkanlah..
Stay with me. Hold me for a while and ask me why. I'll tell you eventough i should cry in front of you..

Senin, 04 April 2016

Comfort Zone

Karena tempat yang nyaman untuk pulang bukan berarti kita harus selalu ada di rumah. Go reach your dream. Take my hand if you need it.

Senin, 28 Maret 2016

Hujan. Jogja. Kamu.

Jalanan hujan badai. Disalip sembarangan. Diklakson seenaknya. Kena cipratan air sedikit. Kena cipratan air banyak. Mau marah sama siapa?
Mau semarah apapun percuma. Siapa yang mau dengar? Hanya buang-buang tenaga. Pada akhirnya yang dipilih adalah ikhlas saja. Pada akhirnya yang dipilih adalah memahami mereka. Mungkin mereka buru-buru, mungkin mereka ada kebutuhan mendesak, dan mungkin-mungkin yang lainnya.

Yang jadi pertanyaan adalah, jika kita bisa dengan mudah memahami orang lain, mengapa kadang kita begitu sulit untuk mau memahami orang yang kita sayangi? Pertanyaan ini terbesit pada malam itu, saat dia mengantarku di bawah derasnya hujan.

Untuk setiap tetes hujan yang menyakiti tanganmu, yang mendinginkanmu, tidak ada yang sia-sia bukan? Dibaliknya ada sesuatu yang kugenggam erat, yaitu keinginan untuk memahami. Seperti hujan dan jogja yang memahamiku lalu membawamu untukku.

Hujan, jogja, kamu.

Sabtu, 19 Maret 2016

Support

Ada salah satu hal yang senang kulakukan, yaitu melihat berbagai ajang pencarian bakat di berbagai acara yang di siarkan di beberapa negara. Siapa yang tidak terpukau dengan bakat-bakat hebat? Tapi ada yang lebih menarik, yaitu pendukungnya.
Ketika seseorang sedang berada di atas panggung dan berusaha memukau banyak penonton, apa yang ada di baliknya? Kadang aku melihat tidak ada siapa-siapa. Kadang aku melihat ada orang-orang yang ikut tegang, berusaha menutupi kecemasannya untuk sebuah dukungan terbaik. Kadang ada yang ikut menangis untuk sekedar tidak sanggup mengatakan "Nggak apa-apa, masih ada kesempatan lain". Kadang ada menangis haru dan bangga.
Apa yang ada di depan layar dan di balik layar itu seolah-olah menghipnotisku tentang sebuah support terbaik dan energi kasih yang begitu kuat.
Oke, kadang aku juga ikut tersihir dan menangis.Semoga aku memiliki pendukung-pendukung terbaik dalam hidupku. Amin..

Minggu, 13 Maret 2016

Twenty One

I am officially 21 years old!!

Sudah kepala dua, lebih satu. Hari itu aku banyak diam. Aku tahu setelah ini akan banyak hal berubah dengan bertambahnya usia. Beberapa percakapan mulai serius. Peperangan batin dalam diri sendiri mulai sering dirasakan. Tapi bukankah seharusnya anak muda siap menerima tantangan? Menikmati jatuh bangun?

"Selamat ulang tahun," kata ibuku saat aku pamit sambil mencium pipinya. Sangat bersyukur beliau masih bersamaku hingga di usiaku yang sekarang ini. Meski hanya berdua, aku yakin suatu saat yang lain akan pulang, karena hati mereka ada di rumah ini, iya kan?

Siangnya aku pergi, menemui seseorang yang sudah menantiku. Banyaaak sekali yang dia lakukan untukku. Banyaak sekali yang dia berikan untukku. Banyak sekali yang membuat hariku saat itu semakin istimewa. Tapi sebenarnya, dialah kado terindahnya. Dia diam, dia cemberut, dia tersenyum, dia tertawa, dia ngomel-ngomel, dia merajuk, dia serius, dan lain-lainnya, diam-diam aku memandanginya, merekamnya dengan jelas dalam setiap kenangan. Lalu aku tersenyum dan kembali berpaling.

Aku adalah orang aneh yang sering memiliki pemikiran sendiri dan tiba-tiba tertawa, seperti orang gila. Ha, dan kamu menjadi salah satu bagian dari keanehanku itu, jangan menyesal ya.

Hmm banyak sekali yang aku takutkan tentang hari esok. Tapi banyak juga yang aku harapkan. Meski aku orang yang berhati-hati dan mencoba realistis, tapi aku juga punya mimpi. Melangkah. Aku hanya harus melangkah. Seperti saat aku bertanya "Jogja hujan apa enggak?". Hujan deras katamu. Aku berpikir ulang untuk pergi. Tapi akhirnya aku memutuskan pergi. Meski sepanjang perjalanan aku menyaksikan langit Jogja di sana gelap tapi aku tetap memutuskan pergi. Karena aku tidak tahu apakah saat aku sampai disana masih hujan atau tidak, atau hanya gerimis, atau tinggal awan mendungnya saja, atau malah hujan badai. Aku juga tidak tahu apakah aku akan basah, atau setengah basah, atau terjaga tetap kering.

Yang aku tahu, pasti selalu ada tempat untuk berteduh. Yang nyaman. Yang menghangatkan. Apapun itu.

Aku hanya perlu melangkah.

Rabu, 09 Maret 2016

Kalut

Pagi itu aku melaju menuju kota tempatku belajar lagi. Sepertinya aku kesiangan, karena matahari sudah agak tinggi. Gedung dan bangunan di kotaku tidak banyak yang tinggi. Dan matahari sudah muncul di balik gedung-gedung itu. Baiklah, aku pernah mengatakan aku menyukai matahari pagi, tapi sungguh, pagi itu cahanya benar-benar mengganggu. Ia mengikutiku terus menerus di sebelah kiriku. Melewati kaca. Mengganggu penglihatanku.
Selama perjalanan itu aku terus marah. Entah karena cahaya menyebalkan itu atau suasana hati sedang tidak begitu baik. Aku ingin marah dan melaju kencang. Kenapa saat kita kesal kita ingin melaju kencang? Karena kita ingin mengubah sesuatu dengan berpindah cepat. Aku merasa kalut sekali pagi itu. Tapi cahanya menghambatku melakukannya. Benar-benar mengganggu, atau aku harus berterimakasih?
Ada kalanya dalam hidup aku begitu kalut. Merasa kesal terhadap apapun. Tapi aku harus bisa mengatasinya. Dan dalam perjalanan panjang itu, aku menghela nafas berkali-kali. Aku harus menyelamatkan hatiku dari kekesalan yang tidak penting ini. Sungguh, bukankah pagi begitu sejuk untuk dinikmati? Semoga..

Senin, 15 Februari 2016

Footsteps

Untuk sebuah hari ini manusia melangkah beribu-ribu kali. Dan manusia yang harus berbangga adalah mereka yang tidak menyesali.

Senang rasanya bisa melewati sesuatu. Ada kepuasan tersendiri bisa memahami orang lain. Ada syukur tersendiri ketika kita telah menyelesaikan sesuatu. Dan di setiap buku yang kututup, entah bagaimana lembarnya, tidak ada sedikitpun aku ingin menyesalinya.

Ibarat pasir yang membuat jejak saat kita melangkah, kita tidak akan kembali menapakkan kaki pada jejak kaki yang sama. Jika kita melewati jalan yang sama pun jejak yang kita buat tidak pernah sama.

Hari ini kelebat masa lalu kembali hadir. Tuhan mempertemukanku lagi dengan bagian masa lalu dalam keadaan yang tidak disangka, lagi.Tapi yang kutahu Tuhan tidak menghadirkan perasaan yang pernah menjadi bagiannya. Dan aku bisa dengan tegak menghadap ke depan tanpa rasa peduli sedikitpun.


Selasa, 09 Februari 2016

Berayun

"Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya."  
-Rectoverso-

Saat kita berayun, seharusnya kita berayun di antara harapan dan ketakutan. Harapan untuk mengayun tinggi dan ketakutan untuk jatuh keluar dari jalur. Tapi sore itu kita berayun dengan tawa. Bukan berarti tidak peduli akan harapan dan ketakutan. Akan tetapi kita selalu bisa memilih untuk melaluinya seperti apa.

Sore itu diam-diam terselip juga harapan dan ketakutan. Angin berbisik di hatiku tentang takut kehilangan. Dan di antara rintik gerimis itu kuselipkan harapan untuk terus bersamamu. Biar segala isi hati yang kutitipkan bersama air hujan itu turun dengan gagah, meresap ke dalam tanah, sempurna menjadi pijakanmu melangkah.

Terima kasih sudah berkunjung ke kota kelahiranku. Menyempatkan datang pada tempat yang sungguh apa adanya. Tidak banyak yang bisa kutawarkan di sana selain ketulusan. Semoga bahagia di manapun kamu berada.